HALOOO

Muhammad Wildan Rohis R7

Posted in Uncategorized | Leave a comment

OPINI TENTANG PERTANIAN INDONESIA

Indonesia disebut-sebut sebagai negara agraris dimana penduduknya sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan lahan pertanian begitu luas dimana-mana. Iklim Indonesia juga sangat mendukung untuk pertumbuhan berbagai tanaman yang berhubungan dengan pertanian.

Namun nampaknya sebutan negara agraris ini hanya sebuah slogan saat ini. Lihat saja dewasa ini banyak lahan pertanian yang sudah tergusur oleh lahan perumahan. Para petani berkehidupan jauh dari kata sejahtera. Harga komoditas hasil pertanian dibeli murah dari petani, sementara harga pupuk dan pestisida melambung tinggi. Itulah yang mengakibatkan banyaknya terjadi gagal panen. Sementara itu, pemerintah terus menerus mengimpor dan melakukan perdagangan bebas dengan negara tetangga yang membuat para petani semakin tercekik.

Masyarakat pun saat ini sudah memandang rendah profesi petani karena penghasilannya yang minim. Jauh dari orang yang bekerja sebagai pedagang. Profesi petani pun saat ini hanya turun temurun, artinya hanya mengolah harta warisan.

Sektor pertanian padahal mampu menyediakan 44% lapangan kerja bagi penduduk Indonesia menurut data dari BPS tahun 2002. Namun karena kondisi yang ada, maka pertanian pun menjadi tidak menarik. Padahal apabila pemerintah serius memajukan pertanian, maka pasti pertanian Indonesia akan menjadi unggul. Bahkan menjadi kekuatan utama di dunia.

Hal itu tentu saja perlu beberapa usaha, baik dari dalam pertaniannya itu sendiri, maupun dari luar pertanian itu sendiri. Dari dalam pertanian misalnya menanam tanaman yang memiliki nilai jual yang tinggi, petani juga tidak hanya menanam beras tetapi juga berbagai macam tanaman sehingga impor komoditas tertentu tidak perlu dilakukan,  mengadakan KUT (Kredit Usaha Tani) sehingga kesejahteraan petani sebelum panen dapat tetap terjamin, menginsentifkan panca usaha tani, dan penyuluhan berbagai cara untuk meningkatkan hasil pertanian.

Selain dari dalam pertanian itu sendiri, ada pula usaha untuk meningkatkan keunggulan pertanian Indonesia. Usaha dari luar ini menitik beratkan pemerintah sebagai regulator segala kebijakan yang ada. Usaha-usaha tersebut diantaranya membatasi komoditas pertanian yang diimpor dari negara lain, menurunkan harga pupuk dan pestisida, menindak tengkulak yang menetapkan harga seenaknya, menetapkan pajak yang tinggi kepada kontraktor perumahan yang akan menjadikan lahan pertanian sebagai lahan perumahannya, serta pemerintah jangan berorientasi pada hasil pertaniannya saja, tetapi pada kesejahteraan petani juga. Seperti pada tahun 2008, swasembada beras kembali diraih, namun tidak serta merta mengangkat kesejahteraan petani. Pembangunan merata pada pedesaan yang mayoritas warganya bekerja sebagai petani juga perlu dilakukan.

Dengan usaha-usaha tersebut, pertanian Indonesia akan menjadi komoditas unggulan. Baik tingkat regional, maupun internasional. Kita jangan hanya menargetkan swasembada, tetapi juga berbagi kepada negara yang lain. Sehingga Tuhan pun meridhoi pertanian kita. Sebuah kutipan dari John Salazar: “I have always said there is only one thing that can bring our nation down – our dependence on foreign countries for food and energy. Agriculture is the backbone of our economy.”

Jayalah pertanian Indonesia!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KONDISI PERTANIAN di DAERAH SINDANGBARANG BOGOR

Saya tinggal di daerah Sindangbarang, sebuah daerah di sebelah barat kotamadya Bogor. Dari IPB pun cukup dekat, hanya 15 menit dengan kendaraan umum itupun apabila tidak macet. Kondisi alam di daerah saya masih cukup asri meskipun perumahan sudah menggerus beberapa lahan baik untuk perkebunan maupun pertanian. Yang lebih dominan di daerah saya adalah lahan perkebunan yang merupakan bagian daripada pertanian.
Di belakang rumah saya ada sebuah ladang perkebunan. Disana ditanami beberapa macam tanaman, baik singkong, pisang, nangka, maupun tanaman khas bogor yaitu talas. Perawatan untuk tanaman-tanaman tersebut tidak dilakukan oleh si pemilik lahan, artinya hanya dibiarkan tumbuh secara alami setelah ditanam di lahan tersebut. Mungkin hanya sesekali diberi pupuk kandang dari kotoran-kotoran kambing yang dipelihara di lahan perkebunan tersebut. Itu pun tidak semua tanaman mendapatkan pupuk, karena kambing yang diternak tidak sebanding dengan luas lahan perkebunan tersebut.
Penggarap lahan bukan sebagai pemilik lahan perkebunan tersebut karena lahan tersebut adalah lahan sengketa. Penggarap tersebut menggantungkan hidupnya dari lahan tersebut. Hasil dari perkebunan tersebut dijual di warung-warung di sekitar lahan perkebunan, tentunya dengan harga yang lebih murah dari harga pasaran. Sesekali pula ada pemborong yang datang dengan mobil bak terbuka untuk membeli hasil lahan perkebunan tersebut, seperti singkong dan talas untuk selanjutnya dibawa ke pasar yang lebih besar. Adapula hasil lahan perkebunan tersebut yang dikonsumsi pribadi oleh penggarap, seperti pisang, daun pisang, jantung pisang, dan juga daun singkong. Kondisi perekonomian penggarap tersebut sepertinya sangat terbantu dari hasil penjualan, karena penggarap tersebut tidak terlihat serba kekurangan. Tetapi mungkin apabila ada penyuluhan tentang tata cara bertani dan meningkatkan hasil pertanian dan perkebunan, penggarap tersebut akan sangat terbantu. Dengan demikian perkebunan yang merupakan bagian dari pertanian dapat menjadi mata pencaharian utama bagi beberapa rakyat Indonesia untuk mengurangi angka pengangguran.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

Posted in Uncategorized | 1 Comment